Toko Buku Online Terpercaya Sejak 2015
0
0

Tahapan Setan Menyesatkan Manusia

TAHAPAN SETAN MENYESATKAN MANUSIA

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.

➡ Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya

Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.

➡ Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah

Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu:

1. Membahayakan agama seseorang,

2. Membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan,

3. Orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar,

4. Bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau.

Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.

➡ Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair)

Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah.

Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.

➡ Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair)

Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya.

إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.”
(HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka itu akan membinasakan. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi.

Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena:

1. Menganggap remeh dosa kecil tersebut,

2. Terus menerus dalam berbuat dosa.

Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)

➡ Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya)

Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik.

Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.

➡ Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal

Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.

Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam bneramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.

Pembahasan di atas kami sarikan dari Badai’ul Fawaid (3: 381 – 385) karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Moga bermanfaat.

Sumber : Artikel Rumaysho.Com

Anda mungkin menyukai

OAT FUTUR DALAM MENUNTUT ILMU

🔰 𝐎𝐛𝐚𝐭 𝐅𝐮𝐭𝐮𝐫 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐭 𝐈𝐥𝐦𝐮 Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh,…

NASIHAT DALAM MENUNTUT ILMU BAGI MUSLIMAH

NASIHAT DALAM MENUNTUT ILMU BAGI MUSLIMAH 📝 Pertanyaan: Mohon nasihatnya untuk kami kaum muslimah ustadz, agar semangat dalam…

NASEHAT UNTUK PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم نصيحة لأهل القرآن NASEHAT UNTUK PARA PENGHAFAL AL-QUR'AN بقلم الدكتور: أيمن رشدي Ditulis oleh:…

APA YANG HARUS KU RISAUKAN ? SEMENTARA SEMUA URUSANKU MILIK ALLAH

﷽ APA YANG HARUS KU RISAUKAN ? SEMENTARA SEMUA URUSANKU MILIK ALLAH Tauhid dan keimanan itulah yang membawa…

WANITA YANG SHALIHAH LEBIH BERHARGA DARI SEKEDAR CANTIK

WANITA YANG SHALIHAH LEBIH BERHARGA DARI SEKEDAR CANTIK Bidadari surga tak cemburu dengan kecantikanmu, karena mereka pun memiliki…

PASTI DIGANTI DENGAN YANG LEBIH BAIK

بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم PASTI DIGANTI DENGAN YANG LEBIH BAIK • Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya jika…
×

Menu

Copyright 2021 Omah Buku Muslim
Toko Buku Online Terpercaya Sejak 2015

Developed by Web Project

Keranjang Belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Omah Buku Muslim

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu

Lakukan pemesanan lewat WhatsApp

Silakan isi kolom dibawah ini untuk melakukan pemesanan produk, Biaya ongkos kirim akan di infokan melalui whatsapp