Beranda » Blog » ANTARA SABAR DAN SYUKUR

ANTARA SABAR DAN SYUKUR

Antara Sabar dan Syukur
Imam Al-Auza’i rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad rahimahullah, ia bercerita:

Aku pernah keluar menuju pesisir laut Arisy Mesir untuk (ribath): menjaga perbatasan muslimin.

Ketika sampai, aku melihat sebuah tanah lapang, tidak jauh darinya terlihat sebuah kemah.

Ternyata didalamnya terdapat seorang lelaki yang kedua tangan dan kakinya telah tiada, pendengarannya dan penglihatannya pun sangat lemah.

Tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang normal selain lisannya.

Lalu ku dengar ia bermunajat:
“Ya Allah, ilhamkanlah bagiku untuk senantiasa memuji-Mu dengan pujian yang dapat menunaikan syukurku atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau lebihkanku atas banyak dari makhluk-Mu.”

Maka aku mendekatinya, memberi salam, Aku mendengarmu tadi berdoa dan memuji Allah. Maka nikmat mana yang engkau puji?

Dan keutamaan apa yang telah Ia lebihkan atasmu sehingga engkau syukuri?

Ia menjawab:
Tidakkah engkau melihat apa yang Rabbku perbuat?
Demi Allah, seandainya Dia menurunkan api dari langit lalu membakarku, memerintahkan gunung-gunung lalu menghancurkanku, memerintahkan lautan lalu menenggelamkanku, memerintahkan bumi lalu menelanku; tidaklah betambah dariku kecuali syukur, atas nikmat yang Ia anugerahkan kepadaku berupa lisan ini.

Akan tetapi wahai Abdullah, karena engkau telah datang kepadaku, aku memiliki satu keperluan kepadamu.

Engkau telah melihat keadaanku.

Aku memiliki seorang anak laki-laki yang biasa mengurusku. Saat waktu shalat tiba, ia membantuku berwudhu. Jika aku lapar, ia memberiku makan. Jika aku haus, ia memberiku minum.

Namun ia telah hilang sejak tiga hari lalu. Maka tolong carikan dia semoga Allah merahmatimu.

Maka aku pergi mencari anak itu. Tidak jauh berjalan hingga aku tiba di antara gundukan-gundukan pasir.

Ternyata anak itu telah diterkam binatang buas. Aku pun beristirja’ (mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).

Ketika akan kembali kepadanya, terlintas dalam hatiku kisah Nabiyullah Ayyub alaihissalam.

Ketika sampai, aku memberi salam dan ia menjawab salamku.

Ia bertanya: Bukankah engkau sahabatku tadi?
Aku menjawab: Benar.

Apa yang engkau lakukan terhadap keperluanku?
Aku: Engkau lebih mulia di sisi Allah atau Nabi Ayyub?

Tentu Nabi Ayyub.
Tahukah engkau apa yang Rabbnya lakukan kepadanya?

Bukankah Dia mengujinya dengan harta, keluarga, dan anak-anaknya?
Benar, jawabnya.

Bagaimana kondisinya?
Ia menjawab: Beliau bersabar, bersyukur, dan memuji-Nya.

Aku melanjutkan: Allah juga mengujinya hingga dijauhkan dari kerabat dan orang-orang terdekatnya, bukan?
Ya.

Aku berkata: Bagaimana kondisinya?
Beliau bersabar, bersyukur, dan memuji-Nya.

Wahai saudaraku, semoga Allah merahmatimu. Putramu aku menemukannya di antara gundukan pasir. Ia telah diterkam binatang buas. Semoga Allah memberimu pahala atas kesabaranmu.

Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan dari keturunanku makhluk yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Dia mengazabnya dengan neraka.

Kemudian ia beristirja’ dan menarik napas panjang, lalu ia meninggal dunia.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sungguh besar musibahku.

Maka aku menutupinya dengan selimut, dan aku duduk di samping kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang empat orang dan berkata: Wahai Abdullah, ada apa? bagaimana keadaanmu?

Maka aku menceritakan kepada mereka kisah kami.

Mereka meminta: Coba singkapkan wajahnya, barangkali kami mengenalnya.

Aku pun membuka kain penutup wajahnya. Lalu mereka langsung memeluk dan menciumnya
seraya berkata:

Betapa mata ini sering tertunduk dari perkara yang diharamkan Allah!
Betapa tubuh ini sering bersujud sementara manusia terlelap!

Sebenarnya siapakah orang ini?, semoga Allah merahmati kalian.

Mereka menjawab: Ini adalah Abu Qilabah al-Jarmi, sahabat dan murid Ibnu Abbas radiallahu anhuna. Ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Maka kami memandikannya, mengafaninya dengan kain yang ada pada kami, menyolati, dan menguburkannya.

Lalu kami berpisah.

Ketika malam tiba, aku bermimpi melihatnya berada di sebuah taman dari taman-taman surga.

Ia mengenakan dua pakaian dari pakaian surga, sambil membaca firman Allah,

“Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah indahnya tempat kembali itu.” (Ar-Ra’d: 24).

Bukankah engkau sahabatku, tanyaku.
Ia menjawab: Benar.

Aku berkata: Dari mana engkau memperoleh ini?

Ia menjawab:
“Sesungguhnya Allah memiliki derajat-derajat yang tidak dapat diraih kecuali dengan kesabaran ketika tertimpa musibah, syukur saat lapang, disertai rasa takut kepada-Nya dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian.”

Semoga Allah merahmatinya.

Sumber kisah:
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqat, jilid 5 hlm. 3 (3561).
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Ash-Shabr wa ats-Tsawab (99).
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, jilid 51 hlm. 114.
Diisyaratkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lam an-Nubala’, jilid 4 hlm. 474
Dan dalam Tadzkirah al-Huffazh, jilid 1 hlm. 94.

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.

https://t.me/Teladanumat

Keranjang belanja

Al Mukhtasar Al Lathif
- +
1 × Rp25600
×
Buku Anak Aku Bisa Coding
- +
1 × Rp17000
×

Omah Buku Muslim

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu