RESUME KAJIAN MENUJU KELUARGA BAHAGIA

Rangkuman Kajian Muslimah Spesial “Menuju Keluarga Bahagia” (Ust Abdullah Zaen حفظه الله)
Semua orang menginginkan rumah tangga bahagia, sayangnya tidak banyak yang serius untuk mewujudkan kebahagiaan.
Seseorang akan dianggap serius dalam usaha menggapai kebahagiaan rumah tangga dilihat dari:
- Keseriusan dalam memahami ilmu
- Keseriusan dalam mengamalkan ilmu
Seseorang dinilai serius memahami ilmu ketika berupaya mendapatkan ilmu yang mengantarkan kebahagiaan rumah tangga. Memahami ilmu adalah sarana, tujuannya mengamalkan ilmu tsb. Selesai belajar, kita punya tanggung jawab untuk mengamalkan ilmunya.
Ilmu apakah yang dibutuhkan agar rumah tangga bahagia?
- Ilmu tentang realita rumah tangga. Karena rumah tangga itu nyata bukan dongeng. Yang perlu dipahami:
A. Rumah tangga itu durasinya panjang
Salah satu ibadah yang durasinya panjang adalah menikah. Memahami ini untuk menyiapkan nafas agar panjang. Karena tidak ada cuti sebagai suami ataupun istri. Salah satu proyek prestisius setan adalah memunculkan perceraian, akan dijadikan setan terdekat dengan iblis.
B. Rumah tangga itu ada senang dan susah.
Baarokallahu laka: semoga Allah memberkahimu ketika senang
Baarokallahu ‘alaika: semoga Allah memberkahimu ketika susah
Urgensinya supaya kita tdk terburu-buru memvonis rumah tangga kita gagal. Bahkan rumah tangga Rasulullah pun ada problem. Rumah tangga yang bahagia bukan yang tidak ada problem, tapi bisa mengelola problem. - Ilmu tentang hak dan kewajiban. Rumah tangga itu sunatullah panjang durasi dan ada susah dan senang. Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya. Akan tetapi suami mempunyai kewajiban lebih besar dibanding istrinya. Yaitu memberikan nafkah lahir dan batin.
Tidak diperkenankan para istri untuk berbincang dengan orang yang tidak disukai suami, & membiarkan orang lain masuk rumah bila suami tidak suka.
Dan ketahuilah para suami hak istri atas kalian adalah kalian berbuat baik dalam sandang dan pangan. HR Ahmad: Ketika wanita shalat 5 waktu dengan baik dan berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatan, dan menaati suaminya, nanti di hari kiamat, masuklah ke surga lewat pintu manapun yang engkau kehendaki. Jangan bermudah-mudahan bercakap dengan lawan jenis di medsos maupun di dunia nyata.
Ciri wanita terhormat: menjaga rasa malu, tidak agresif terhadap laki-laki bukan mahram. - Ilmu tentang karakter pasangan. Bibit: Pentingnya nasab: dari pola pendidikan. Nasabnya baik biasanya pendidikannya baik. Bebet: kesiapan memberi nafkah. Bobot: mutu, kepribadian
Seorang pria dilihat dari agamanya dan akhlaknya (tutur kata, interaksi).
Bila belum menikah untuk tahu bibit bebet bobot dengan investigasi terhadap orangtua, teman dst.
Setelah menikah memahami karakter pasangan juga penting. Mencakup apa kelebihan, kekurangan, selera, hal disukai, hal yang tidak disukai. Semakin memahami karakter, bisa memilih sikap yang pas terhadap pasangan.
Misal: suami uring-uringan terhadap masakan istri. Istri uring-uringan krn setiap masak tidak disentuh. Padahal problemnya istri tidak mengerti selera suami.
Contoh: istri mengeluh letihnya istri mengurusi rumah. Setiap mau curhat dipotong suami, jangan banyak ngeluh. Wanita lebih ingin didengar, diperhatikan.
Kebahagiaan rumah tangga sangat ditentukan dengan aqidah suami istri. Aqidah bukan apa yang dihafal, bukan matan yang dikhatamkan berkali-kali. Aqidah adalah pondasi.
- Tauhid Rububiyah: keyakinan bahwa Allah Sang Maha Pencipta, Pengatur, Pemberi Rizki. Ketika kita meyakini Allah yg mengaturnya, maka kita lebih mudah menerima takdir pasangan kita. Siapa yg menakdirkan kita menikah dengan suami? Allah. Dengan begitu kita aka ridho, huznudzon dengan takdir Allah. Dengan demikian akan mengurangi sikap mengeluh dan membanding-bandingkan.
Petuah ayahanda Ustadz rahimahullah “Lee, baju orang lain sebagus apapun tidak bisa dipakai. Bajumu sendiri sesederhana apapun bisa dipakai. Jangan membanding-bandingkan istrimu dengan istri orang lain. Secantik apapun haram untukmu.” Tidak boleh seorang laki-laki beriman meremehkan perempuan beriman. Kalau seorang laki-laki tidak menyukai 1 karakter istrinya, pasti ada karakter lain yang disukai. Misal: istri tidak pandai masak, tapi punya kelebihan lain misal: penyayang, telaten mengurus anak. - Tauhid Uluhiyah. Tauhid uluhiyah mengajarkan ibadah dan seluruh aktivitas hidup kita seharusnya untuk Allah. Jangan sampai kekurangan pasangan dalam menunaikan kewajiban, membuat kita terprovokasi untuk tidak menunaikan kewajiban. Karena kita menunaikan kewajiban lillah. Bila menemukan sesuatu yang tidak sesuai keinginan kita, maka kembalikan ke niat kita.
Misal: istri memasak untuk suami, dimakan habis, tapi suami tidak berterima kasih. Tidak apa, karena lillah. - Tauhid Asma’ & Sifat. Bagaimana tauhid Asma’ & Sifat berefek ke rumah tangga?
Misal:
Ar Razzaq (Maha Memberi Rezeki)
Ketika kita meyakini yang memberi rezeki adalah Allah. Maka urusan rezeki in syaa Allah tidak memicu konflik selama kita berusaha maksimal dan tawakal total.
Al Bashir (Maha Melihat)
Keyakinan bahwa Allah Al Bashir akan membuat kita hati-hati dalam segala hal. Terutama dalam menggunakan hp atau saat jauh dari istri/suami. Walaupun istri dan suami kita tidak tahu, tapi Allah Al Bashir.
Wallahua’lam bisshawab.
Ummu Zakiya



