THOLIBUL ILM DAN LIBURAN

Tholibul Ilm dan Liburan.
Kelapangan waktu adalah sebuah nikmat jika dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kebaikan yang paling agung adalah menuntut ilmu.
Namun waktu luang juga merupakan tempat tergelincirnya banyak orang; sebab jiwa pada hari-hari liburan dan waktu kosong cenderung mengajak kepada menyia-nyiakan waktu dalam kesenangan dan hiburannya.
Karena itu, putuslah jalan bagi jiwa yang selalu memerintah kepada keburukan dengan mewajibkan diri menjalani program-program keilmuan, baik yang bersifat khusus maupun umum.
- Program-program khusus
Yaitu bersikap tegas dalam:
Mengulang setiap hari sebagian hafalan dan pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya.
Menambah hafalan dari Al-Qur’an, hadits, dan matan-matan ilmiah.
Memperluas kajian beberapa disiplin syar‘i yang penting, terutama tauhid dan akidah.
Mengikuti pelajaran-pelajaran rekaman (audio/video) dan membaca syarah-syarahnya, serta mencatat faedah-faedah dan mengulanginya dari waktu ke waktu.
Termasuk ilmu yang penting adalah:
Belajar nahwu sekadar untuk memperbaiki lisan dan memahami i‘rab.
Belajar ushul fikih praktis, karena sangat mudah dan ringan.
- Program-program umum
Di antaranya:
Memanfaatkan kesempatan menghadiri dauroh-dauroh ilmiah dari para masyaikh yang terpercaya akidah, manhaj, dan ilmunya.
Sebelum menghadiri dauroh tersebut, bacalah terlebih dahulu bidang ilmu yang ingin dipelajari agar sudah memiliki wawasan—karena karakter dauroh ilmiah biasanya cepat dan padat.
Berkumpul—meskipun jarak jauh—dengan beberapa teman yang serius, untuk muraja‘ah ilmu atau membaca sebuah buku dengan disertai diskusi masalah-masalahnya. Apa yang sulit, ditanyakan kepada ulama yang terpercaya.
Dengan demikian, penuntut ilmu akan selalu tersibukkan dengan belajar. Jika ia mewajibkan dirinya dalam waktu luang dan masa liburan untuk menjalani program ilmiah khusus dan umum, ia akan berlomba dengan waktu setiap hari untuk menyelesaikan program-programnya.
Berbeda halnya jika ia tidak melakukan itu; hari-hari akan berlalu tanpa ilmu, tanpa belajar, dan tanpa pencapaian. Betapa cepatnya waktu berlalu. Hari demi hari, lalu minggu, kemudian bulan, dan akhirnya hilang begitu saja.
Penutup
Aku menekankan pentingnya meluruskan niat secara berkala, agar penuntut ilmu benar-benar mencari:
Ridha Allah Ta‘ala,
Mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari umat Muhammad ﷺ,
Menolong agama Allah dengan membantah yang menyelisihi dan membersihkan agama dari hal-hal yang disusupkan ke dalamnya.
Maka kedudukan ini adalah kedudukan yang agung, kedudukan para shiddīqīn.
Ya Allah, gunakanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu, dan karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat serta amal yang saleh yang membuat-Mu ridha kepada kami, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Rais ar-Rais hafidzahullah



